Pangkalpinang, Gaspar86.com -Beberapa hari ini, nama Maulan Aklil (Molen) kembali ramai dibicarakan. Sayangnya, yang beredar justru narasi setengah matang yang hanya mengungkit satu kebijakan lama—kenaikan PBB-P2 tahun 2022—tanpa mau melihat konteks dan fakta sebenarnya.
Saya masih ingat betul situasi waktu itu. Data pajak Pangkalpinang sudah bertahun-tahun tak pernah disesuaikan. Kota ini berjalan dengan pendapatan minim, sementara tuntutan pembangunan terus menggunung. Molen mengambil langkah berani: penyesuaian NJOP. Apakah hasilnya sempurna? Tidak. Apakah ada warga yang terdampak berat? Ya. Tapi bedanya, Molen tidak lari dari kritik. Ia berdiri di hadapan rakyatnya, mengakui ada kekeliruan, dan menyesuaikan kebijakan dengan relaksasi besar.
Banyak kepala daerah yang saat tersudut memilih membungkam aspirasi rakyat, bahkan menantang balik. Tapi Molen memilih mendengar. Pilihan itu mungkin tak menghapus semua beban, tapi membuktikan ia punya jiwa pemimpin yang mau mengoreksi arah demi warganya.
Lima tahun kepemimpinannya tak hanya soal PBB. Kita melihat perbaikan jalan, penataan taman kota, ruang publik baru, digitalisasi layanan, dan wajah Pangkalpinang yang semakin hidup. Menghapus semua itu hanya karena satu kebijakan yang sudah diperbaiki sama saja menutup mata pada kenyataan.
Pemimpin sejati bukan yang tak pernah salah—karena itu hanya ada di dongeng. Pemimpin sejati adalah yang pernah jatuh, mengakui, lalu bangkit dengan pelajaran di tangan. Itulah Molen.
Pilkada 2025 bukan soal mengulang kesalahan, tapi soal memberi kesempatan kepada mereka yang sudah belajar dari kesalahan untuk membawa Pangkalpinang lebih maju. Dan saya percaya, Molen adalah salah satunya.
Opini: Fajri, Pemuda Pangkalpinang
Penulis : Fajri

















